Dari sudut kota yang jauh. Perasaan kepadamu tetaplah hal yang utuh. Sebab kamu bagian dari rencana-rencana besarku. Bagian penting dari hal-hal yang kumiliki dalam hidupku. Maka, bertahanlah di sana tanpa rasa curiga. Tanamkan dalam dadamu apa yang aku perjuangkan sepenuh jiwa. Bersabarlah di sana, biar kukembangkan lebih lebar lagi sayapku di sini. Semoga tidak lama lagi semesta memisahkan…
Selain di langit, Tuhan juga menciptakan surga di tatap matamu dan di setiap ketidakwarasanku akan kamu.
Ada banyak hal yang tak pernah kuceritakan kepadamu. Perihal betapa sakitnya masa lalu yang pernah singgah di dada. Bukan karena apa-apa, bagiku, menceritakan masa lalu hanyalah akan membuatmu merasa aku masih berharap padanya. Padahal tidak. Semenjak memilih untuk menjadi bagian dari hidupmu, aku sudah mengikhlaskan dia selamanya. Meski kami berakhir bukan karena ingin aku dan dia. Namun, ad…
Ada banyak sekali hal yang tak bisa kuutarakan, maka kutuliskan saja. Semua perasaan yang tak tersampaikan. Hal-hal yang mungkin terasa menyakitkan. Perihal kamu dan dia yang rumit. Atau catatan-catatan yang tak pernah ku kirim langsung untukmu, tapi kutulis dalam sedihku. Semua perasaan itu akhirnya membuatku mengerti arti jatuh dan cinta. Aku -atau kamu- akan selalu punya alasan untuk kembali…
Apakah kau ingat saat kita berjanji untuk saling membahayakan? Katamu, setiap perasaan yang tumbuh adalah sebuah alasan. Alasan bahwa hati patut dipertahankan. Namun, cinta saja belum cukup menyatukan mimpi yang berbeda di antara kita. Dan, menepati janji ternyata tak semudah mengucapkannya. Apakah kau juga tahu bahwa kenangan bersamamu selalu muncul tiba-tiba? Tak ada satu perasaan pun y…
“Aku ingin pulang menemui diriku sendiri dan memeluknya seerat yang aku bisa.” Orang-orang tak perlu tahu seberapa banyak tumpah air mataku. Orang-orang tak perlu tahu sekeras apa aku membungkam suara tangisku. Mereka cukup melihat aku bahagia-bahagia saja. Agar mereka tidak memandangku sebagai manusia yang lemah. Biarlah tangisanku kuhadirkan di hadapan kesepianku saja. Sebuah upaya bag…
“Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi dengan cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab, kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu. Ketidakberanianku mengikatmu memberi ruang bagi orang asing yang mendekatimu.” “Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu denga…